Riset terbaru membuktikan Gen Z mampu fokus belajar dengan baik, membantah stereotip mereka sebagai ‘generasi TikTok’.
Generasi Z sering dianggap mudah bosan dan sulit fokus di kelas. Label ‘generasi TikTok’ membuat pengajar berasumsi visual cepat adalah satu-satunya cara menarik perhatian. Namun, riset terbaru membantah stereotip ini, mengungkap cara Gen Z sebenarnya bisa fokus belajar.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Gen Z: Tidak Mudah Bosan, Hanya Membutuhkan Konteks
Anggapan Gen Z sebagai ‘generasi TikTok’ yang sulit fokus tidak sepenuhnya akurat. Riset 2023 Times Higher Education, menguji presentasi PowerPoint berbasis AI pada mahasiswa Gen Z, menunjukkan hasil mengejutkan yang menantang pandangan konvensional tentang gaya belajar mereka.
Dalam diskusi kelompok, mahasiswa Gen Z menyatakan tidak ingin diperlakukan remeh di kelas. Mereka menginginkan materi jelas, terstruktur, dan didesain efektif. Hal ini menunjukkan fokus mereka sangat bergantung pada penyajian materi dan nilai proses belajar.
Pola pikir kritis Gen Z dalam menilai materi dan desain pembelajaran menjadi kunci. Mereka memahami perbedaan antara penggunaan media sosial dan suasana kelas, serta mampu beralih ke ‘mode belajar’ saat diperlukan. Kesadaran tinggi terhadap cara mereka belajar ini membuktikan bahwa Gen Z memiliki kapasitas fokus yang mendalam jika diberi perlakuan yang tepat.
Mengaktifkan ‘Mode Belajar’ di Kelas
Svetoslav G. Georgiev dan Joseph Tinsley dari Xi’an Jiaotong-Liverpool University menjelaskan bahwa mahasiswa Gen Z menunjukkan kesadaran tinggi terhadap proses belajar mereka. Mereka menyadari bahwa media sosial dan lingkungan kelas adalah dua konteks yang berbeda, dan mereka mampu menyesuaikan diri dengan kedua situasi tersebut.
Beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa saat berada di kelas, mereka dapat secara sadar beralih ke ‘mode belajar’. Dalam mode ini, mereka menjadi lebih sabar dan mampu menyerap materi dengan lebih saksama. Temuan ini secara langsung menantang pandangan umum bahwa Gen Z selalu terdistraksi oleh kebiasaan digital mereka.
Fokus belajar Gen Z ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan menggunakan gawai, melainkan juga oleh konteks, motivasi, dan desain pembelajaran yang jelas. Jika materi disajikan dengan cara yang menghargai mahasiswa dan mudah dipahami, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan mampu mempertahankan perhatian mereka secara efektif.
Baca Juga: Rahasia Wali Tetap Jadi Idola Gen Z, Padahal Sudah Eksis Sejak 2000-an
Materi Jelas Dan Desain Efektif Adalah Kunci
Mahasiswa Gen Z dengan tegas menyatakan preferensi mereka terhadap materi kuliah yang jelas dan terstruktur, dibandingkan visual yang terlalu ramai. Mereka berpendapat bahwa substansi materi dan alur penyampaian jauh lebih esensial daripada sekadar dekorasi visual pada slide presentasi. Kualitas konten adalah prioritas utama.
Menurut Gen Z, slide yang efektif seharusnya hanya berisi poin-poin singkat yang langsung mengarah pada gagasan utama, menghindari paragraf panjang yang berpotensi membingungkan. Visual tetap diperlukan, tetapi harus relevan dan benar-benar mendukung materi, bukan hanya sebagai hiasan latar tanpa makna atau tujuan edukatif.
Mahasiswa menekankan peran dosen tidak sekadar membacakan slide. Mereka menginginkan materi yang menyampaikan pesan utama secara cepat dan jelas, dengan nilai dan tujuan terdefinisi, bukan penyajian tak terstruktur ala media sosial.
Pembelajaran Visual Yang Bermakna
Meskipun Gen Z cenderung menghindari visual yang berlebihan, mereka sangat menghargai desain yang dirancang dengan cermat dan fungsional. Mereka meyakini bahwa elemen seperti penempatan teks yang strategis, kombinasi warna yang konsisten, dan simbol sederhana dapat memperjelas serta mempercepat proses pemahaman materi. Visual yang bermakna sangat penting.
Beberapa mahasiswa menyoroti bahwa slide pembuka yang memuat pertanyaan, misalnya definisi suatu konsep, sangat membantu mereka. Slide ini mempersiapkan mereka untuk menerima informasi selanjutnya. Isyarat visual semacam ini efektif membantu otak mengelompokkan informasi, membuat materi kompleks terasa lebih mudah dicerna dan tidak membingungkan.
Pendekatan ini mirip dengan konten informatif di media sosial yang ringkas dan terstruktur, seperti panduan langkah demi langkah atau daftar poin penting. Dalam konteks pembelajaran, visual bukan sekadar elemen estetika atau hiburan, melainkan alat bantu kognitif yang esensial untuk mendukung cara Gen Z berpikir, mengingat, dan memproses informasi secara lebih efisien.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di BACOTAN GEN Z agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari radarmojokerto.jawapos.com
- Gambar Kedua dari liputan6.com