Survei Deloitte terbaru mengungkap bahwa definisi sukses karier bagi Gen Z dan Milenial berbeda dari generasi sebelumnya.

Generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial, mulai mengubah paradigma tentang apa itu kesuksesan dalam karier. Survei terbaru dari Deloitte menunjukkan bahwa bagi banyak pekerja muda, promosi jabatan bukan lagi indikator utama kesuksesan. Sebaliknya, kepuasan kerja, keseimbangan hidup, dan peluang belajar dianggap jauh lebih penting.
Temukan rangkuman informasi menarik lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di BACOTAN GEN Z.
Temuan Utama Survei Deloitte
Survei Deloitte dilakukan terhadap ribuan pekerja Gen Z dan Milenial di berbagai negara, dengan tujuan memahami prioritas mereka dalam karier. Hasilnya cukup mengejutkan: hanya sebagian kecil responden yang menganggap kenaikan jabatan sebagai tujuan utama.
Sebaliknya, mayoritas responden menekankan pentingnya work-life balance, fleksibilitas jam kerja, dan kesempatan mengembangkan kemampuan profesional. Faktor-faktor seperti gaji dan status sosial masih penting, tetapi tidak lagi menjadi indikator kesuksesan yang dominan.
Hal ini menunjukkan pergeseran budaya kerja dari orientasi hierarki ke orientasi pengalaman. Generasi muda lebih menilai nilai praktis dan emosional dari pekerjaan mereka daripada sekadar posisi atau gelar.
Work-Life Balance dan Fleksibilitas
Work-life balance menjadi faktor paling penting bagi Gen Z dan Milenial dalam menilai kesuksesan. Mereka menghargai kemampuan untuk mengatur waktu antara pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan aktivitas pribadi.
Fleksibilitas jam kerja dan opsi remote working memungkinkan generasi muda menyesuaikan pekerjaan dengan gaya hidup mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja, tetapi juga produktivitas. Pekerja yang merasa seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung lebih kreatif dan termotivasi.
Bagi perusahaan, memahami hal ini berarti meninjau kebijakan HR, memperkenalkan sistem fleksibel, dan mengutamakan kesejahteraan karyawan. Survei Deloitte menunjukkan bahwa perusahaan yang menawarkan fleksibilitas lebih besar berhasil mempertahankan talenta muda lebih lama.
Baca Juga: Satu Nyawa Hilang, Tawuran Gen Z Di Jaktim Menelan Korban
Kesempatan Belajar dan Pengembangan Diri

Selain fleksibilitas, kesempatan belajar dan pengembangan keterampilan menjadi indikator sukses yang krusial. Gen Z dan Milenial ingin pekerjaan mereka memberi peluang untuk berkembang, bukan sekadar mendapatkan gelar atau promosi.
Pelatihan, mentoring, dan proyek-proyek yang menantang dianggap lebih bernilai daripada kenaikan jabatan. Mereka menilai kesuksesan melalui kemampuan belajar hal baru, memperluas jaringan profesional, dan membangun portofolio pengalaman.
Pendekatan ini berbeda dari generasi sebelumnya yang lebih fokus pada posisi atau status. Saat ini, pengalaman dan penguasaan skill lebih dihargai karena memberi keuntungan jangka panjang, baik untuk karier maupun kehidupan pribadi.
Kepuasan Kerja dan Dampak Psikologis
Gen Z dan Milenial sangat peduli dengan kepuasan psikologis di tempat kerja. Mereka menilai kesuksesan dari sejauh mana pekerjaan memberikan rasa tujuan, prestasi, dan kontribusi positif.
Lingkungan kerja yang inklusif, transparan, dan suportif menjadi faktor utama. Stres yang berlebihan, budaya kompetitif yang ekstrem, atau manajemen yang kaku dapat menurunkan motivasi dan kepuasan. Survei Deloitte menemukan bahwa pekerja muda lebih cenderung meninggalkan pekerjaan yang tidak memenuhi kebutuhan psikologis mereka, bahkan jika gaji dan jabatan tinggi.
Kepuasan kerja juga berkaitan dengan kesehatan mental. Generasi muda lebih terbuka untuk membicarakan burnout, tekanan kerja, dan pentingnya self-care. Hal ini menggeser definisi sukses dari sekadar pencapaian materi menjadi keseimbangan emosional dan profesional.
Implikasi Bagi Perusahaan dan HR
Perusahaan perlu menyesuaikan strategi pengembangan karier untuk menarik Gen Z dan Milenial. Kenaikan jabatan saja tidak cukup. Fokus harus bergeser pada penciptaan pengalaman kerja yang memuaskan, fleksibel, dan mendukung pertumbuhan pribadi.
Program mentoring, pelatihan berkelanjutan, dan peluang proyek inovatif menjadi kunci untuk mempertahankan talenta muda. Selain itu, komunikasi terbuka dan budaya inklusif membantu generasi ini merasa dihargai dan termotivasi.
Dengan memahami prioritas Gen Z dan Milenial, perusahaan bisa menciptakan lingkungan kerja yang produktif, loyal, dan inovatif. Kesuksesan perusahaan tidak lagi diukur dari hirarki jabatan, tetapi dari keterlibatan dan kepuasan karyawannya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari Kompas.com
- Gambar Kedua dari CNBC Indonesia